Cimahi – UNG Skors Ketua Panitia Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengeluarkan keputusan tegas terkait insiden tragis yang menimpa seorang mahasiswa baru.
Dalam peristiwa itu, seorang mahasiswa ditemukan tewas setelah mengikuti kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).
Korban disebut mengalami luka-luka parah di tubuhnya hingga akhirnya meninggal dunia.
Kabar tersebut langsung menggemparkan lingkungan kampus dan masyarakat luas.
Rektor UNG menegaskan pihak kampus tidak akan menutup mata terhadap kasus ini.
Sebagai langkah awal, UNG menjatuhkan sanksi skorsing kepada ketua panitia Diksar.
Keputusan ini diambil setelah muncul bukti-bukti kuat mengenai dugaan kelalaian panitia.
Ketua panitia dianggap memiliki tanggung jawab besar atas jalannya kegiatan tersebut.

Baca Juga : Gebrakan AHY Sulap 154 Kawasan Transmigrasi Jadi Pusat Ekonomi Baru
Skorsing itu berlaku hingga proses investigasi internal dan eksternal selesai dilakukan.
Selain itu, panitia lain yang terlibat juga tengah diperiksa oleh tim khusus kampus.
Pihak keluarga korban merasa sangat terpukul atas peristiwa yang menimpa anak mereka.
Mereka mendesak agar kampus dan pihak berwenang mengusut kasus ini secara tuntas.
Menurut keterangan keluarga, korban sempat mengeluhkan kelelahan sebelum akhirnya ditemukan babak belur.
Namun, belum diketahui secara pasti penyebab luka-luka yang dialami korban.
Polisi telah turun tangan melakukan penyelidikan terhadap dugaan tindak kekerasan dalam kegiatan Diksar tersebut.
Beberapa panitia dan peserta kegiatan sudah dimintai keterangan oleh penyidik.
Kapolres Gorontalo menyebut pihaknya akan mengusut semua kemungkinan, termasuk dugaan penganiayaan.
Rektor UNG juga mengumumkan pembentukan tim investigasi independen di lingkungan kampus.
Tim ini akan bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk mencari fakta sebenarnya.
Sementara itu, kegiatan Mapala di UNG untuk sementara dihentikan sampai ada kejelasan kasus.
Kebijakan ini diambil demi mencegah terulangnya tragedi serupa di kemudian hari.
Mahasiswa di kampus itu pun ikut menyuarakan keprihatinan mendalam.
Beberapa organisasi mahasiswa menuntut transparansi penuh dari pihak kampus dalam penanganan kasus.
Mereka juga meminta agar budaya kekerasan ini.







