Cimahi – Pendaki yang Terjatuh Gunung Burangrang kembali membuktikan bahwa alam bisa menjadi medan ujian, sekaligus tempat munculnya keajaiban. Seorang pendaki yang sempat dinyatakan hilang setelah terjatuh di jalur ekstrem akhirnya ditemukan selamat, meski dalam kondisi lemah dan dehidrasi.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 19 Oktober 2025, ketika seorang pendaki laki-laki berusia 24 tahun tergelincir dan terjatuh ke lereng curam saat sedang turun dari puncak bersama rombongannya. Pencarian intensif pun dilakukan oleh tim SAR gabungan, relawan, dan pecinta alam setempat.
Kronologi: Dari Puncak ke Jurang Sunyi
Menurut rekan-rekan pendaki, korban sempat tertinggal beberapa meter di belakang rombongan saat menuruni jalur Licin Blok Goa Lalay—salah satu trek paling menantang di Gunung Burangrang. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan suara benda jatuh menghantam bebatuan.
“Kami langsung balik arah, tapi tak menemukannya. Sinyal HP juga hilang. Kami putuskan untuk minta bantuan tim SAR,” ujar Rian, rekan pendaki korban.
Baca Juga : Label Napi High Risk yang Kini Melekat ke Ammar Zoni
Pencarian dimulai sejak sore hingga malam, namun medan terjal dan minimnya pencahayaan membuat proses evakuasi terpaksa dilanjutkan keesokan harinya.
Akhirnya Ditemukan, Nyawa Tertolong Alam
Setelah hampir 20 jam pencarian, korban akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat, meski dengan luka ringan di kaki dan tangan serta tubuh menggigil karena udara malam yang menusuk.
Yang mengejutkan, korban ternyata berhasil bertahan dengan meminum air tetesan dari bebatuan dan berlindung di balik semak-semak untuk menghindari hawa dingin. Ia juga menggunakan kaos sebagai penanda lokasi dengan mengikatnya ke dahan pohon.
“Sebuah keajaiban. Dengan luka dan suhu malam yang ekstrem, korban masih sadar saat kami temukan,” kata Komandan Tim SAR Burangrang.
Korban langsung dievakuasi ke pos pendakian terdekat dan kemudian dibawa ke Puskesmas untuk observasi. Kondisinya kini stabil dan tidak mengalami cedera serius.
Pelajaran dari Kejadian Ini: Alam Tak Pernah Bisa Diremehkan
Gunung Burangrang, meski tingginya “hanya” 2.050 mdpl, menyimpan tantangan tersendiri. Jalur terjal, batuan licin, dan cuaca tak menentu bisa mengubah pendakian santai menjadi situasi darurat dalam hitungan menit.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pendaki:
-
Jangan mendaki sendirian.
-
Selalu jaga jarak aman dan komunikasi dalam rombongan.
-
Siapkan peralatan darurat, seperti peluit, headlamp, dan pakaian hangat.
-
Waspadai trek licin, terutama setelah hujan.
Penutup: Selamat Datang Kembali, Sobat Alam
Kisah pendaki yang selamat dari maut ini bukan hanya cerita tentang keberuntungan, tapi juga tentang ketahanan manusia di hadapan alam liar dan solidaritas dalam dunia pendakian. Gunung bisa menguji, tapi juga bisa mengampuni — tergantung bagaimana kita memperlakukannya.







