Cimahi – Dalih Beli Obat Aksi nekat sepasang suami istri (pasutri) di Tasikmalaya, Jawa Barat, menggemparkan warga setempat setelah mereka kedapatan mencuri sepeda motor milik seorang warga. Modus yang mereka gunakan cukup mengejutkan. Pasutri ini mengaku mencuri motor untuk digunakan membeli obat jantung bagi sang suami yang sedang sakit. Namun, polisi yang menangani kasus ini menilai bahwa alasan tersebut hanyalah dalih untuk menutupi niat jahat mereka. Setelah diamankan, keduanya kini terancam hukuman atas perbuatan mereka.
Aksi Pencurian yang Terungkap Secara Tak Sengaja

Baca Juga : Pesona Ubur ubur Kakaban dalam Kostum Rinanda Aprillya di Ajang Miss Charm
Peristiwa ini bermula pada suatu pagi yang biasa di Kecamatan Cihideung, Tasikmalaya, ketika seorang warga bernama Dedi Saputra melaporkan bahwa sepeda motornya hilang dari depan rumah. Dedi, yang bekerja sebagai petani, merasa kebingungan karena motor tersebut adalah satu-satunya kendaraan yang ia gunakan untuk pergi bekerja ke ladang.
Tak lama setelah kejadian, aparat kepolisian yang menerima laporan dari Dedi langsung melakukan penyelidikan. Tak disangka, motor milik Dedi ditemukan di sebuah rumah yang terletak di kawasan Kampung Ciseureuh, tidak jauh dari lokasi kejadian.
Saat polisi datang ke rumah tersebut, mereka mendapati pasangan suami istri, Tedi (45) dan Ira (42), yang mengaku membeli motor tersebut dari seseorang yang tidak mereka kenal. Namun, saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, sejumlah bukti menunjukkan bahwa motor tersebut adalah hasil curian.
Polisi kemudian melakukan interogasi kepada Tedi dan Ira. Keduanya akhirnya mengakui bahwa motor tersebut dicuri untuk digunakan membeli obat-obatan bagi Tedi yang mengidap penyakit jantung. Mereka menjelaskan bahwa dengan tidak memiliki cukup uang, mereka merasa terdesak untuk melakukan pencurian sebagai jalan pintas untuk memperoleh uang.
Alasan “Obat Jantung” yang Tidak Masuk Akal
Pengakuan Tedi dan Ira bahwa mereka mencuri motor untuk membeli obat jantung bagi Tedi langsung menuai keraguan dari pihak kepolisian. Pasalnya, kedua tersangka diketahui tidak dalam kondisi yang benar-benar kritis, dan tidak ada bukti medis yang mendukung klaim mereka tentang penyakit jantung tersebut. Polisi mencurigai bahwa alasan itu hanyalah kedok untuk menutupi aksi pencurian yang mereka lakukan.
Kepala Kepolisian Sektor Cihideung, AKP Surya Pratama, menegaskan bahwa motif utama mereka sepertinya bukanlah sekadar untuk membeli obat, tetapi lebih karena faktor ekonomi dan niat untuk mendapatkan uang dengan cara yang salah. “Kami menemukan bahwa alasan mereka membeli obat jantung tidak memiliki bukti yang kuat. Ini lebih kepada upaya mereka mencari uang cepat, dan motor itu mereka jual untuk memperoleh dana yang mereka butuhkan,” ujar AKP Surya.
Tedi dan Ira juga mengungkapkan bahwa mereka merencanakan pencurian tersebut dengan cukup matang. Mereka memilih sasaran sepeda motor yang terparkir di depan rumah karena menurut mereka, motor itu terlihat tidak terkunci dengan baik. “Kami melihat motor itu terparkir begitu saja, dan setelah memastikan tidak ada orang, kami langsung mengambilnya,” kata Ira dengan suara pelan saat diperiksa di kantor polisi.
Modus Pencurian yang Sederhana
Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan bahwa pasangan suami istri ini memiliki modus operandi yang sangat sederhana. Mereka memanfaatkan kelengahan pemilik motor yang meninggalkan kendaraan tanpa pengawasan. Tedi dan Ira pun dengan cepat menggondol motor tersebut dan membawanya ke rumah mereka untuk segera dijual ke orang lain dengan harga yang lebih murah. Namun, tak lama setelah mereka melakukan pencurian, motor itu ditemukan oleh pihak kepolisian.
“Ini adalah tindakan kriminal yang harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Meskipun mereka memiliki alasan yang sepertinya mendesak, pencurian tetaplah pencurian,” ujar AKP Rudi.
Dalih Beli Obat Dampak Psikologis bagi Keluarga dan Masyarakat
Susi, seorang tetangga yang mengenal Ira, mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka pasangan tersebut bisa terjerumus dalam tindakan kriminal. “Kami tahu mereka hidup pas-pasan, tapi tidak pernah menyangka mereka akan melakukan hal seperti ini. Ira selalu tampak baik-baik saja, dan selama ini kami pikir mereka orang yang jujur,” kata Susi.







