Gue masih inget banget malam pertama nginap di kos baru, tiga tahun lalu. Koper belum dibuka penuh, kasur belum dipasang spreinya, tapi HP udah gue pegang erat sambil scroll berita. Entah kenapa, jadi anak rantau bikin gue ngerasa harus tahu semua yang terjadi di kampung, di kota baru, di negara ini, bahkan di belahan dunia yang nggak ada hubungannya sama hidup gue. Hasilnya? Jam dua pagi, mata masih melek, jantung deg-degan gara-gara baca berita yang ujung-ujungnya nggak ngubah apa-apa dalam hidup gue besok pagi.
Dari situ gue mulai sadar ada dua gaya konsumsi informasi yang bener-bener beda: scroll berita vs baca buku. Kedengeran sepele, tapi efeknya ke hidup gue sebagai perantau ternyata besar banget.
Scroll Berita: Cepet, Tapi Bikin Kepala Penuh
Scroll berita itu ibarat makan keripik. Sekali buka, susah berhenti. Satu judul selesai, ada judul lain yang lebih heboh. Belum selesai baca satu, notifikasi masuk lagi. Gue dulu ngerasa "update" karena tiap hari tahu apa yang lagi rame. Tapi coba tanya balik, seminggu kemudian apa yang gue inget? Hampir nggak ada.
Yang lebih parah, scroll berita bikin gue gampang cemas. Ada satu periode di semester tiga, gue baca berita soal kenaikan harga, kasus kriminal, sampai berita politik yang bikin emosi. Padahal gue lagi di kota orang, uang bulanan pas-pasan, dan tugas numpuk. Berita-berita itu nggak bikin gue lebih siap hadapi hidup, malah bikin gue overthinking soal hal yang nggak bisa gue kontrol.
Baca juga: WFH Pemkot Cimahi Terbukti Hemat Penggunaan BBM dan Listrik
Baca Juga: hantugamealternatif.com
"Kamu nggak harus tahu semua hal yang terjadi di dunia. Kadang yang kamu butuh cuma tahu apa yang terjadi di sekitarmu."
Ini kalimat yang gue tulis sendiri di catatan HP, dan gue baca tiap kali tangan gatel pengen buka aplikasi berita tengah malam.
Kenapa Perantau Rentan Kena Efek Negatifnya
Sebagai anak rantau, kita sering ngerasa kehilangan jangkar. Keluarga jauh, teman lama beda kota, dan lingkungan baru belum sepenuhnya nyaman. Scroll berita jadi semacam pelarian—ngerasa terhubung sama dunia luar tanpa harus benar-benar terhubung sama orang di sekitar. Padahal justru di fase ini kita butuh ketenangan, bukan tambahan kebisingan di kepala.
Gue pernah ngalamin satu momen memalukan: lagi video call sama nyokap, gue malah sambil scroll berita. Nyokap ngomong panjang soal kesehatan, gue cuma "hmm... iya... iya..." sambil mata nempel di layar. Setelah telepon ditutup, gue ngerasa bersalah banget. Momen kayak gitu yang bikin gue sadar prioritas gue kebalik.
Baca Buku: Pelan, Tapi Nemenin Gue Sendiri
Bukan berarti gue langsung jadi kutu buku. Justru awalnya gue baca buku karena bosan dan nggak ada kuota. Gue pinjem novel tipis dari perpustakaan kampus, dan anehnya, baca 20 halaman buku itu lebih menenangkan daripada scroll berita satu jam.
Kenapa bisa gitu? Karena baca buku itu linear. Kamu ngikutin satu alur, satu pemikiran, sampai selesai. Nggak ada notifikasi, nggak ada judul lain yang nyerobot. Otak jadi punya ruang buat mencerna, bukan cuma bereaksi. Ini yang bikin gue merasa lebih "hadir" di momen itu.
Lama-lama gue mulai nerapin prinsip yang sama ke berita. Kalau mau baca berita, gue pilih satu atau dua artikel yang bener-bener relevan, baca sampai habis, terus tutup. Nggak lanjut scroll. Hasilnya, gue tetap tahu informasi penting tanpa harus kehilangan ketenangan.
Pelajaran yang Gue Dapet dari Dua Kebiasaan Ini
Setelah setahun lebih eksperimen kecil-kecilan, ada beberapa hal yang akhirnya nempel dan gue rasa berguna buat sesama perantau:
- Berita itu konsumsi, bukan identitas. Kamu nggak jadi orang yang lebih peduli cuma karena tahu semua isu. Kadang peduli itu artinya fokus ke hal yang bisa kamu ubah.
- Batasi jam scroll, bukan jumlah berita. Gue sekarang kasih jendela waktu khusus buat cek berita, misalnya 20 menit setelah makan malam. Di luar itu, aplikasi berita gue taruh di folder yang susah dijangkau.
- Buku jadi penawar kepanikan. Tiap kali kepala mulai penuh, gue ambil buku apa saja dan baca 10 halaman. Efeknya kayak napas panjang setelah lari kencang.
- Koneksi ke orang nyata lebih penting. Daripada scroll berita kampung, mending telepon nyokap dan dengerin cerita dapur. Itu informasi yang jauh lebih relevan buat hidup gue.
Yang Nggak Gue Duga: Jadi Lebih Pilih-Pilih
Efek sampingnya, gue jadi lebih kritis sama berita. Kalau ada judul yang bikin emosi, gue tanya dulu: ini beneran penting buat gue, atau cuma bikin gue panik? Kalau jawabannya yang kedua, gue skip. Bukan berarti nggak peduli, tapi gue sadar energi mental gue terbatas, apalagi sebagai perantau yang harus ngurus kuliah, uang, dan hidup sendiri.
Gue juga jadi sadar kalau berita itu sering kali dirancang buat bikin kita terus-terusan balik. Bukan salah kita kalau kecanduan, tapi kita bisa pilih buat nggak ikut arusnya. Baca buku ngajarin gue buat "selesai" sesuatu, sedangkan scroll berita ngajarin gue buat "terus-terusan mulai". Dua-duanya punya tempat, asal kita tahu kapan pakai yang mana.
Kalau kamu lagi di fase awal jadi perantau dan ngerasa kepala penuh terus, coba deh bandingin sendiri: seminggu full scroll berita, seminggu lain lebih banyak baca buku atau artikel panjang. Rasain bedanya. Buat gue, jawabannya udah jelas—gue tetap butuh berita, tapi gue nggak mau hidup gue dikendaliin sama notifikasi.