Gue ngaku. Sampai awal tahun lalu, gue masih percaya beberapa "kebenaran" soal berita yang ternyata cuma mitos. Bukan karena gue orang yang gampang percaya, ya. Tapi karena hal-hal ini udah kayak warisan turun-temurun di kantor. Ada aja yang bilang di ruang meeting, di grup WhatsApp divisi, atau sambil ngopi di pantry. Dan gue, dengan polosnya, nelen mentah-mentah.
Baru setelah gue iseng ngecek sendiri — baca beberapa sumber, ngobrol sama teman yang kerja di media — gue sadar beberapa keyakinan itu keliru. Bukan cuma keliru, tapi lumayan bikin hidup gue lebih ribet: panik berlebihan, kerjaan jadi berantakan, dan yang paling parah, gue sempat nyebarin hal yang salah ke orang lain. Malu? Iya, dong.
Jadi buat kamu yang mungkin masih percaya salah satunya, ini cerita gue. Anggap aja curhat sekaligus pengingat.
Baca juga: Gadis Muda Berprestasi Divonis Pengawasan dalam Kasus Media Sosial
"Kalau udah viral, pasti bener"
Ini mitos paling bahaya, dan gue dulu termasuk korban. Logikanya dulu simpel: kalau satu berita udah dishare ratusan ribu orang, masa iya sih semuanya salah? Ternyata jawabannya: iya, bisa.
Viral itu soal kecepatan dan emosi, bukan soal validitas. Sebuah unggahan bisa meledak karena bikin marah, bikin takut, atau bikin gemas — dan justru karena emosi itulah orang jarang ngecek dulu sebelum share. Gue pernah hampir ikut nyebarin "berita" soal kebijakan kantor yang katanya bakal mem-PHK massal. Ternyata itu cuma screenshot lama dari tahun 2019 yang diedit tanggalnya. Tiga teman gue udah telanjur panik dan nanya ke HRD. Bayangin malu dan ributnya.
Sejak kejadian itu, gue punya aturan sederhana: kalau sesuatu bikin gue pengen langsung share karena emosi, justru itu tanda gue harus diam dulu. Cek sumbernya. Cari minimal satu media kredibel yang nulis hal serupa. Kalau nggak ada, ya udah, tinggalin.
"Baca berita pagi-pagi biar nggak ketinggalan"
Nah, yang ini gue dulu banget percaya. Setiap pagi, sebelum buka laptop kerja, gue scroll berita dulu. Niatnya biar "update". Hasilnya? Jam 8 pagi gue udah kebawa stres sama berita bencana, konflik, atau drama politik yang nggak ada hubungannya sama hidup gue.
Yang gue pelajari kemudian: nggak ketinggalan itu bukan soal seberapa cepat kamu tahu, tapi seberapa relevan info itu buat kamu. Sebagai pekerja kantoran, berita yang beneran ngaruh ke gue cuma beberapa: kebijakan yang berhubungan sama pekerjaan, isu ekonomi yang ngaruh ke harga, dan sesekali berita lokal sekitar tempat tinggal. Sisanya? Bisa gue baca nanti sore kalau sempat.
Ketinggalan berita itu bukan dosa. Yang dosa itu ketinggalan tidur gara-gara doomscrolling sampai jam dua pagi.
Gue mulai geser kebiasaan: pagi buat diri sendiri dan kerjaan, berita masuk di jam makan siang atau sore. Efeknya lumayan kerasa — kepala lebih ringan, dan anehnya gue tetap tahu hal-hal penting. Karena berita yang beneran penting itu bakal nyampe ke kamu lewat banyak jalur, bukan cuma dari scroll pagi.
"Berita sekarang nggak bisa dipercaya sama sekali"
Ini mitos yang arahnya ke sebaliknya: terlalu sinis. Gue pernah ada di fase ini juga. Setelah beberapa kali ketipu hoaks, gue jadi males baca berita sama sekali. "Ah, media juga punya kepentingan," begitu pikir gue waktu itu.
Masalahnya, sikap "semuanya bohong" itu sama nggaknya dengan "semuanya benar". Dua-duanya bikin kamu malas mikir. Kenyataannya, dunia jurnalistik itu nggak hitam-putih. Ada media yang kerja rapi dan ngecek fakta, ada juga yang ngejar klik. Tugas kita bukan percaya buta atau curiga buta, tapi milih sumber yang masuk akal dan konsisten.
Cara gue nyaring sumber berita sekarang
- Cek apakah medianya jelas punya alamat redaksi dan nama penulis. Kalau nggak ada, curiga.
- Baca lebih dari satu sumber buat isu yang penting. Kalau semuanya ngutip dari satu tempat yang sama, itu bukan konfirmasi.
- Bedain berita sama opini. Banyak yang nyampur, dan kita sering nggak sadar lagi baca pendapat orang, bukan fakta.
- Lihat tanggalnya. Ini sepele tapi sering banget bikin gue ketipu — berita lama yang didaur ulang jadi kelihatan baru.
Gue nggak bilang ini sempurna. Kadang gue masih ketipu juga. Tapi setidaknya sekarang gue ketipunya lebih jarang, dan kalau pun salah, gue nggak langsung nyebarin ke sepuluh grup WhatsApp.
"Nggak baca berita berarti nggak peduli"
Yang terakhir ini yang paling sering bikin gue merasa bersalah. Kayak ada semacam tekanan moral: kalau kamu nggak ngikutin perkembangan dunia, berarti kamu warga yang cuek. Padahal, peduli itu nggak harus berarti tahu semuanya setiap saat.
Gue punya teman yang sama sekali nggak baca berita harian, tapi dia rutin jadi relawan dan nyumbang ke organisasi yang dia percaya. Peduli nggak peduli bukan soal seberapa banyak headline yang kamu konsumsi. Konsumsi berita itu cuma satu cara, bukan satu-satunya cara.
Justru, menurut gue, konsumsi berita yang berlebihan tanpa arah malah bikin kita mati rasa. Kita lihat bencana, kita sedih lima menit, terus scroll lagi. Lama-lama semuanya jadi tontonan, bukan sesuatu yang bikin kita bertindak.
Jadi sekarang gue lebih milih: baca lebih sedikit, tapi lebih dalam. Kalau ada isu yang beneran penting buat gue, gue baca sampai habis, cari konteksnya, kadang diskusi sama teman. Sisanya, gue lewatin dengan tenang. Dan gue nggak merasa bersalah lagi soal itu.
Kalau ada satu hal yang gue pelajari dari semua ini: mitos soal berita itu kebanyakan lahir dari kebiasaan yang diwariskan tanpa pernah dicek ulang. Sama kayak gue dulu. Jadi kalau kamu masih percaya salah satunya, nggak apa-apa. Coba aja dicek sendiri pelan-pelan. Nggak perlu langsung berubah, cukup mulai curiga sama hal-hal yang selama ini kamu telan gitu aja.