Gue tinggal di kota kecil yang kalau malam tiba, satu-satunya hiburan warung kopi ya televisi yang nyala terus. Dari situ berita datang tiap hari: pembunuhan, korupsi, banjir, harga cabai naik. Lama-lama kepala gue penuh, padahal yang gue lakukan cuma duduk minum teh manis.
Suatu sore, iseng-iseng gue tantang diri sendiri: sebulan penuh nggak nonton berita TV sama sekali. Bukan berarti gue jadi orang yang nggak peduli, ya. Gue cuma pengin tahu, apa sih yang sebenarnya berubah kalau kita berhenti nyerap berita tiap jam.
Minggu Pertama: Canggung, Kayak Kehilangan Sesuatu
Jujur, hari kedua itu paling berat. Tangan gue otomatis nyari remote, padahal otak bilang "jangan". Rasanya kayak ada yang bolong. Di warung, teman-teman gue pada bahas kasus terbaru, dan gue cuma bisa manggut-manggut sambil ngopi.
Ada rasa takut ketinggalan info. Tapi anehnya, rasa itu hilang dalam beberapa hari. Gue mulai sadar, sebagian besar berita yang gue tonton itu nggak pernah gue pakai buat apa-apa. Besoknya juga sudah lupa.
Baca juga: Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Sabtu 11 April 2026
Yang Berubah di Kepala Setelah Dua Tiga Minggu
Ini bagian yang paling gue rasain. Tidur gue jadi lebih enak. Dulu, sebelum tidur gue masih sempat nonton berita kriminal, dan kepala jadi penuh bayangan yang nggak enak. Sekarang? Gue baca buku tipis atau ngobrol sama tetangga, terus tidur.
Suasana hati juga lebih stabil. Nggak gampang kesel cuma gara-gara lihat berita politik yang bikin darah naik. Istri gue sampai bilang, "Kamu kok akhir-akhir ini kalem?" Padahal gue nggak minum jamu apa-apa.
Yang paling terasa: gue jadi punya waktu. Sejam sehari yang dulu habis buat nonton berita, sekarang kepakai buat benerin pagar, main sama anak, atau sekadar duduk di teras. Waktu itu ternyata ada, cuma dulu dipakai buat hal yang bikin cemas.
Bukan Berarti Jadi Orang yang Nggak Tahu Apa-apa
Gue tetap baca berita, kok. Tapi caranya beda. Sekarang gue cuma buka satu portal berita lokal sekali sehari, itupun yang penting-penting saja. Kalau ada isu besar yang beneran nyangkut ke hidup warga kampung — misalnya harga pupuk atau jadwal pemilu — gue cari tahu dari grup WhatsApp RT, bukan dari TV yang muter berita sama terus tiap jam.
Berita itu kayak garam. Sedikit bikin makanan enak, kebanyakan bikin nggak bisa dimakan.
Efeknya ke Rumah dan Tetangga
Ada satu perubahan kecil yang bikin gue senyum sendiri. Dulu, kalau ada berita heboh, gue ikut ribut di warung. Sekarang gue lebih banyak dengerin. Ternyata obrolan warga jadi lebih hidup kalau isinya cerita sawah, anak sekolah, atau rencana kerja bakti — bukan cuma mengulang apa yang barusan dibaca dari layar.
Gue juga nggak segera percaya sama judul yang bikin panik. Sebulan tanpa berita TV bikin gue sadar: banyak berita itu dirancang biar kita terus nonton, bukan biar kita paham. Begitu sadar, kepala jadi lebih tenang.
Kalau Kamu Mau Coba, Mulai dari yang Ringan
Nggak perlu langsung sebulan. Coba dulu satu minggu tanpa berita TV, ganti dengan ngobrol sama keluarga atau jalan sore. Kalau di kampung kamu sinyal susah, malah lebih gampang — tinggal matikan TV, selesai.
Yang perlu diingat, ini bukan soal jadi orang yang cuek. Kita tetap warga yang peduli. Cuma, kita pilih cara nyari tahunya. Berita penting tetap dicari, berita yang cuma bikin deg-degan ya dilewati.
Setelah sebulan, gue nggak balik nonton berita tiap hari. TV di rumah sekarang lebih sering nyala buat siaran bola atau film. Dan gue nggak nyesel sedikit pun. Kalau kamu warga kota kecil atau desa yang capek sama kepala penuh berita, mungkin ini saatnya coba. Nggak ada ruginya, kok.